OSMB (Orientasi Study Mahasiswa Baru) atau lebih akrab disapa OSPEK (Orietasi Pengenalan Kampus), merupakan washilah atau sarana pengenalan Mahasiswa baru terhadap kampus dan dunia kemahasiswaan itu sendiri. OSPEK sejatinya menjadi sebuah pendidikan khusus bagi Mahasiswa agar tidak sekedar “mencintai kampus” saja atau menjadi “Mahasiswa kupu-kupu” yang kesehariannya hanya pulang pergi kekampus, kantin, kosan, nangkring dan pacaran.
Mahasiswa adalah harapan dan generasi penerus bangsa yang idealnya memiliki sebuah kafaah dan Intelectualitas tinggi sebagai agent of change, control social dan iron stock serta memiliki peran social yang tinggi di Masyarakat. OSPEK bukanlah ajang kekerasan, balas dendam, marah-marah, bentak sana bentak sini yang sebenarnya tidak memiliki alasan yang jelas dan logis, bukan doktrinasi semata apalagi hura-hura dan huru-hara.
Oleh karena itu dibutuhkan sebuah konsep dan sistem yang jelas serta kerjasama yang baik dengan seluruh instrumen mahasiswa. Hal ini menjadi penting agar tekhnis dilapangan succes dan tidak terjadi overlapping, sehingga isu/materi yang akan diberikan akan tersampaikan dengan baik kepada Mahasiswa baru yang notabenenya masih sangat awam akan dunia Mahasiswa. Akan tetapi pada kenyataanya terkadang menyalahi aturan dan berbalik menjadi 180 derajat. Kenapa? karena disana banyak kepentingan politik masing-masing lembaga, organisasi, atau unit kegiatan mahasiswa disetiap fakultas. Mungkin itu adalah suatu hal yang wajar dan lumrah bagi setiap aktivis Mahasiswa karena OSPEK merupakan moment yang tepat untuk mencari generasi dan tunas-tunas baru untuk melanjutkan roda Organisasi agar tetap berjalan dengan baik.
Walaupun demikian, sepertinya sudah menjadi tradisi klasik, bahwa konsep OSPEK yang terbaik adalah dengan jalan membentak-bentak, marah-marah. Secara psikologis, seharusnya Mahasiswa baru diposisikan untuk siap menerima materi-materi kekampusan dan dunia kemahasiswaan, serta diajarkan untuk bersikap dewasa agar maba benar-benar dapat berfikir sesungguhnya apa itu hakikat Mahasiswa yang ideal. Bukan malah dibentak-bentak dan dimarah-marahi dengan sesuatu yang tidak jelas dengan mencari-cari kesalahan sang maba. Seorang ahli Psikologis UI pernah mengatakan dalam sebuah acara talkshow ditelevisi, bahwa tidak mungkin seorang yang mentalnya atau kondisi psikologisnya sedang tertekan (droop mentality) dan merasa terancam, akan dapat menerima materi dengan baik. Sehingga materi-materi yang diberikan oleh pihak birokrasi fakultas / jurusan, dapat dipastikan kurang bisa diterima dengan baik oleh mahasiswa baru.
Menyayangi, dan menghormati orang-orang yang lebih rendah kedudukannya (seperti, orang miskin, mahasiswa junior, anak kecil, dan lainnya) adalah perkara yang dianjurkan oleh agama kita. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيْرِنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa yang tidak menyayangi orang kecil diantara kami, dan tidak mengenal hak orang besar (orang tua) diantara kami, maka ia bukan termasuk golongan kami”. [HR. Abu Dawud (4943), dan At-Tirmidziy (1920)]
Orang-orang yang tidak menyayangi, dan tak menghormati orang-orang kecil dan rendahan, maka mereka tak disayangi oleh Allah. Bahkan mereka telah membuat Allah murka kepadanya, jika ia membuat orang-orang rendahan jadi marah dan jengkel. Amr bin A’idz Al-Muzaniy -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
أَنَّ أَبَا سُفْيَانَ أَتَى عَلَى سَلْمَانَ وَ صُهَيْبٍ وَبِلاَلٍ فِيْ نَفَرٍ فَقَالُوْا: وَاللهِ, مَا أَخَذَتْ سُيُوْفُ اللهِ مِنْ عُنُقِ عَدُوِّ اللهِ مَأْخَذَهَا قَالَ: فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: أَتَقُوْلُوْنَ هَذَا لِشَيْخِ قُرَيْشٍ وَسَيِّدِهِمْ ؟ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ, فَقَالَ: يَا أَبَا بَكْرٍ, لَعَلَّكَ أَغْضَبْتَهُمْ, لَئِنْ كُنْتَ أَغْضَبْتَهُمْ لَقَدْ أَغْضَبْتَ رَبَّكَ
“Abu Sufyan pernah datang (waktu itu masih musyrik, -pen) kepada Salman, Shuhaib, dan Bilal bersama rombongan. Mereka pun (Salman, dkk) berkata, “Demi Allah, pedang-pedang Allah belum mengenai leher musuh-musuh Allah”. Amer bin A’idz berkata, “Abu Bakar berkata, “Apakah kalian mau mengucapkan hal seperti ini kepada Orang tua dan Pemimpin Quraisy ini (yakni, Abu Sufyan)? Lalu Abu Bakar pun datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seraya mengabarkan kejadian itu. Beliau bersabda, “Wahai Abu Bakar, barangkali engkau telah membuat mereka marah. Jika kau telah membuat mereka marah, maka kau telah membuat Robb-mu marah“. [HR. Muslim (2504)]
Al-Imam Abu Zakariyya’ An-Nawawiy-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat keutamaan yang jelas bagi Salman, dan kawan-kawan mereka ini. Di dalamnya juga terdapat (anjuran) untuk menjaga hati (perasaan) orang-orang lemah, orang yang beragama; memuliakan, dan bersikap lembut kepada mereka”.[Lihat Al-Minhaj (16/66)]
Jadi, membuat orang-orang lemah dan rendahan jadi marah dan tersinggung merupakan perkara yang tercela dalam Islam. Apalagi jika orang lemah adalah orang yang sholeh dan beragama.
Kata-kata merendahkan yang keluar dari mulut-mulut mahasiswa senior dalam OSPEK sudah menjadi menjadi hal lumrah dan halal di sisi para senior. Padahal Allah melarang kita menghina yang lain,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan (menghina) kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan(menghina) kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri, dan janganlah melakukan tanabuz (memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan). seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim”. (QS. Al-Hujuraat: 11).
Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Nashir As-Sa’diy-rahimahullah- berkata dalam memaknai ayat ini,“Janganlah seorang diantara kalian mencela saudaranya, dan menggelarinya dengan gelar-gelar hina yang ia benci jika disematkan kepadanya. Inilah tanabuz. Adapun gelar-gelar yang tak tercela, maka ia tak masuk dalam hal ini”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal.801)]
Menghina MABA dengan gelar-gelar jelek adalah hal yang lumrah dilakukan oleh senior mereka, misalnya senior menggelari MABA dengan “si Gundul”, “si Botak”, "si Centil" dan lain sebagainya.
Ibnu An-Nuhhas Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata dalam Tanbih Al-Ghofilin (hal. 149), “An-Nawawiy -rahimahullah- berkata dalam Al-Adzkar, “Para ulama’ telah menyepakati pengharaman memberikan gelar-gelar (jelek) kepada manusia dengan sesuatu yang ia benci, sama saja apakah gelar itu adalah sifat baginya, seperti si Mata Rabun, si Pincang, si Juling, si Kecil; ataukah gelar itu adalah sifat ayah, dan ibunya, atau selainnya diantara perkara yang ia benci“. [Lihat Al-Adzkar:Kitabul Asma' (hal. 662)]
Jika kita mau menelusuri dan mengintai kegiatan OSPEK, maka kita akan menjumpai beragam penghinaan atau olok-olokan mulai dari perintah menggundul kepala, mencukur sebagian rambut dengan model yang menggelitik, mencoreng wajah, perintah untuk bertingkah konyol, mengepang rambut dalam jumlah banyak, dan lainnya
Rasanya OSPEK hanya sebuah drama sinetron yang tidak jelas alur dan arah tujuannya. Setelah OSPEK 3 hari selesai, mulailah terbuka dan membaur antara Mahasiswa baru dengan Mahasiswa lama. Dalam sebuah candanya salah seorang maba bercerita dengan akrabnya : ”Eh, ternyata Kakak2 Tatib itu orangnya baik-baik yah,, ramah n friendly,,tapi kok waktu pas OSPEK galak n sangar-sangar buanget sih kak??” lalu salah seorang tatib menjawab : ”Ah,,itu Cuma boong-boongan aja kok. Waktu itukan Kakak cuma akting aja, cuma becanda.”.
Begitu tuh, bisa jadi semua materi pembinaan mental akan dianggap hanya sebuah canda dan bohong belaka karena nilai-nilai kesungguhan tidak ada dan tidak tertanam dalam diri sang senior.
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 76 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas & mujahidallah.wordpress.com